ASKARA – Anyer di ujung barat Pulau Jawa identik dengan wisata pantainya yang indah. Lebih dari itu Anyer sarat dengan wisata sejarah, mulai dari Stasiun Kereta Api yang menghubungkan antara jalur Anyer Lor sampai Anyer Kidul hingga yang paling fenomenal Jalan Pos Anyer – Panarukan sepanjang 1.000 km.
Belum lagi sejarah mengenai penyebaran agama Islam di Banten yang buktinya banyak kita jumpai, salah satunya adalah Mesjid Kuno Darul Falah di Cikoneng yang konon dibangun oleh masyarakat Lampung yang ada di Anyer. Diperkirakan Mesjid Kuno ini dibangun di sekitar abad ke 16 atau awal abad ke 17.
Perjalanan menyusuri Anyer kali ini, penulis ditemani bersama Sahabat Graece Journey dan 2 orang sahabat dari Klub Tukang Jalan sebagai pemandu.
Perjalanan dari Jakarta menuju langsung menuju destinasi pertama Stasiun Anyer Lor. Pada tahun 1900, Stasiun Anyer Lor menjadi stasiun kereta api satu-satunya yang terletak di ujung paling barat Pulau Jawa. Diperkirakan, antara tahun 1980 dan 1990, jalur menuju stasiun ini dihentikan.
Meski kondisi bangunan yang tersisa saat ini sangat tidak terawat, namun sebenarnya bangunan bekas Stasiun Anyer Lor tetap menunjukkan pesona masa lalunya. Tulisan Anjerlor masih melekat di dinding stasiun, tetapi rapuh. Kondisimerana, tak terawat hampir selalu dijumpai dari banyak bekas stasiun dan halte di jalur mati kereta api.
Puas membayangkan suasana masa lalu dari Stasiun Anyer Lor, perjalanan kami lanjutkan menuju Stasiun Anyer Kidul. Kondisi Stasiun Anyer Kidul saat ini sangat merana. Lahan kosong di sisi barat, menghadap Pantai Anyer Kidul, menjadi lapangan bola voli. Sisi timurnya terhimpit bangunan permukiman penduduk. Tulisan Anjerkidul masih melekat di dinding stasiun, tetapi terlihat rapuh. Perlu dicatat stasiun ini memiliki riwayat sebagai stasiun ujung Pulau Jawa di bagian barat yang pertama kali dibangun.
Tak jauh dari dari Stasiun Anyer Kidul kita dapat menjumpai Masjid tua Daarul Falahdi Kampung Cikoneng. Masjid kuno peninggalan jaman Belanda ini yang di prediksi didirikansekitar abad ke-16 akhir atau awal abad ke-17 ini, hingga kini masih berdiri dan terawat dengan baik serta sudah menjadi cagar budaya.
Cerita menarik dari Masjid ini, konon masjid ini dibangun oleh masyarakat Lampung yang ada di Anyer. Masyarakat sekitar masjid meyakini bahwa pendirian masjid berhubungan dengan utusan dari Kerajaan Tulang Bawang, Lampung, yang menyebarkan Islam di Banten.
Komunitas masyarakat Lampung sudah berkembang di Cikoneng sejak abad ke-16. Pada masa itu, Kesultanan Banten dipimpin oleh Sultan Maulana Hasanuddin (1552-1570). Sultan Maulana Hasanuddin meminta bantuan Kerajaan Tulang Bawang untuk penyebaran Islam di Banten. Utusan dari Lampung ini kemudian menetap di Cikoneng.
Dari Masjid Darul Fallah kami beranjak ke sebuah tempat yang menjadi saksi bisu berbagai sejarah Indonesia yaitu Mercusuar Cikoneng.
Mercusuar CikonengBanten disebut-sebut sebagai titik nol Jalan Pos Anyer Panarukan sepanjang 1.000 km, membentang dari ujung Barat hingga Timur Pulau Jawa.
Pembangunan jalur Anyer Panarukan melewati Jakarta, Bogor, Cianjur, Bandung, Cadas Pangeran, Majalengka, Cirebon sampai ke Jawa Tengah hingga tembus ke Panarukan, Jawa Timur
Bangunan mercusuar ini mencapai 75,5 meter dengan 18 tingkat yang dihubungkan 286 anak tangga. Fungsi utamanya adalah sebagai pemandu navigasi bagi kapal yang berlayar di pantai barat Jawa karena penuh karang berbahaya.
Mercusuar yang dibangun pada masa Herman Willem Daendels menjadi Gubernur Jenderal. Pada thn 1883, mercusuar itu pernah luluh lantak karena letusan Gunung Krakatau. Raja Belanda ZM Willem III lalu memberikan hadiah untuk menggantikan menara yang lama yang berdiri hingga kini.
Menarik ya,ternyata wisata di Anyer bukan hanya tentang pantai yang cantik tapi lebih dari itu ada banyak jejak sejarah yang berawal di tempat ini.
Yuk kita susuri Anyer yang penuh keindahan mulai dari alam sampai sejarahnya. Selamat menjelajah.
https://ouo.io/X7MY2n

Leave a comment